FORMASCAP : Nyata-nyata ada,nyata-nyata tidak ada



Ada beban berat yang seolah saya rasakan ketika menulis ini, terutama pada sub judul yang tertera di atas. Ya, judul ini sedikit mewakili, kiprah dan eksistensinya sebuah oganisasi primordial semacam formascap di blantika kampus muhammadiyah yogyakarta tercinta. Kenapa saya sebut nyata-nyatanya ada, nyata-nyatanya tidak ada?. Ya, karena seringkali terjadi pasang surut, malah kemungkinan besar lebih banyak surutnya daripada pasang. Mungkin surutnya sampai menimbulkan tenggelam, dan lebih parahnya setelah tenggelam Organisasi primordial ini mati, tak berbekas dan tak meninggalkan sejarah sama sekali. Persis yang terjadi pada tahun 2006 (perlu diklarifikasi), formascap pernah tenggelam dan mati. Tak berbekas sama sekali. bak di telan bumi. Kasihan nian.


            Ya itu sejarah, namun sejarah itu tak pernah berwujud ada (ada pun hanya sedikit sekali) dan ini yang terjadi pada Formascap, pelaku dan korban pasca meredupnya Formascap, seperti tak mau tahu atau bahkan tidak tahu. Sampai-sampai saya, sebagai orang yang sok peduli dengan kiprah masa lalu formascap. nyaris saja memperkosa (diluar dari konteks bersetubuh/bersenggama ya ^_^) satu-persatu para pelaku dan korban meredupnya formascap dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan njlimet dan sok keren, agar mereka mau mempertanggungjawabkan kenapa formascap bisa mati dan tidak tumbuh lagi di orbit kampus muhammadiyah tercinta ini. Cukuplah dengan jawaban lisan atau sukur-sukur ada peninggalan arsip yang bisa diwariskan untuk melanjutkan tongkat estafet kiprah formascap di kemudian hari. Tapi ternyata, jawaban-jawaban yang muncul sungguh-sungguh tidak memuaskan, dan terlebih lagi tidak ada sama sekali peninggalan arsip. Wow amazing! Mumet ndase...



            Tapi syukurlah puji tuhan, salah satu pelaku yang sekarang jadi dosen di kampus kita (tak perlu sebutkan nama, mungkin pembaca sebagian besar sudah pada tahu) mau membantu dalam segala persiapan untuk pendeklarasian kembali terbentuknya formascap, oh jangan lupa, lambang yang sekarang yang masih berkibar dalam bendera formascap termasuk salah satu kontribusi beliau loh.. (salam tahdzim, saya hormat dan kagum pada beliau). Kembali pada permulaan yang saya tulis, tanpa bekal sejarah dari berbagai lisan maupun tulisan yang memadai, walaupun sedikit memaksakan, mau tidak mau dan saya pun harus mau, mulai membangun kembali organisasi primordial formascap dari nol, ya dari nol. Seperti benih yang ditumpahkan melalui ovum agar terbentuknya proses manusia, begitu analoginya. Susah-susah gampang.. haha



            Baiklah agak serius sedikit ya, jadi deklarasi formascap di bangun kembali, tepat pada tanggal 3 maret tahun 2013 masehi, hijriyahnya saya tidak tahu, tidak ada kalender hijriyah soalnya. Tempatnya di kebun buah mangunan, Bantul. Sedikit romantis, dengan mengambil view di kebun buah, walaupun kalau mau dapat buahnya, kita harus beli. Tidak gratis. Prosesinya sederhana dan terbilang murah, karena waktu itu bertepatan sekali dengan makrab pertama formascap, jadi dana langsung di akomodir dari donatur para peserta makrab. Jadi tidak ada santunan dari luar, karena tidak ada sama sekali membuat proposal.

            Satu lagi, deklarasi pertama FORMASCAP (awal mula namanya KOMACIL lalu diganti formascap, soalnya kalau nama komacil disebutkan, dan kemudian terpeleset lidahnya, kedengarannya akan tabu dan sangat diskriminatif. ^_^) langsung di barengi dengan pelantikan pengurus angkatan pertama setelah tenggelam. Yang melantik adalah bapak dosen yang saya sebutkan diatas, sekaligus di dapuk sebagai pembina pertama formascap. Nahkodanya saudara atfhal jurusan keperawatan angkatan 2010, dan dibantu oleh beberapa pengurus inti maupun non inti. Untuk jumlah pengurusnya saya agak lupa, yang jelas ada beberapa pengurus dari kedokteran yang unyu-unyu dan gemesin, dengan sukarela mau memberikan tenaga dan pikirannya untuk kemajuan formascap, dengan kata lain, pengurus angkatan pertama lebih banyak di isi oleh kawan-kawan dari fakultas kedokteran. Wow luar biasa, jarang-jarang soalnya. Mungkin karena mereka kepincut dengan kegantengan saya. Haha



            Itulah sekelumit cerita deklarasi kembali terbentuknya formascap, lah terus prosesnya bagaimana mas? Prosese ndasmu, prosese mumeti dan mboseni banget, apa perlu saya cerita? Ha perlu? Yaudah, saya cerita sedikit. Sedikit ya, ga usah banyak-banyak, soalnya mungkin sudah tidak penting konteksnya. Jadi awal mulanya begini, saya ini hanya manusia penggelisah, ini yang saya lihat secara realita dari kaca mata saya pribadi (jadi tidak menggeneralisir ya, takut ada yang tersinggung). Pada permulaan yang saya lihat, ada disorientasi tujuan mereka kuliah, dikotomi antara anak kota dan anak desa yang terlihat sebagai jurang pemisah, dan satu lagi yakni sikap, ya sikap, sikap-sikap yang hampir keluar konteks mereka sebagai agent gas elpiji, eh salah, maksudnya agen perubahan sosial. Saya tak perlu menjelaskan panjang lebar soal ini, pasti semua mafhum dan paham. Karena kita-kita ini yang pernah makan bangku kuliah tak pernah sekalipun ketinggalan dengan doktrin-doktrin seindah itu.



            Di situlah hati saya tergerak, saya coba melihat sekup yang lebih kecil, kecil sekali, hanya sebatas kampus, wong cilacap yang kuliah di UMY. mula-mula saya kontak kawan wanita saya yang dikedokteran gigi, saya coba jelaskan tentang mimpi-mimpi saya dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan, mencoba tidak membahas hal-hal yang intim. Agar tidak tersinggung dan dia bersedia membantu dan click dia pun siap membantu, dan siap dengan sukarela mau untuk menghubungi kawan-kawan yang lain, untuk mau mendengarkan gagasan-gagasan saya tentang komunitas anak-anak cilacap di lingkaran UMY. jadi lebih tepatnya, kawan wanita saya ini yang memobilisasi massa, dan saya sendiri yang membuat gagasan-gagasannya.



            Berbagai cara di tempuh dan dilakukan, dan kalau tidak salah, demi terbentuknya komunitas ini, saya sampai rela menanggalkan jabatan saya sebagai sekjend HIMACITA yang waktu itu baru 3 bulan setelah saya menerima mandat untuk jabatan tersebut. Pada permulaan awal dalam menyatukan gagasan-gagasan yang menguap, saya pribadi gencar sekali dalam melakukan pergerakan-pergerakan bawah tanah. Walaupun harus banyak berkorban, terutama dalam waktu dan (percintaan)  haha. Tapi saya rela. Ya saya rela untuk mengorbankan itu semua. Demi satu cita-cita. Agar mahasiswa cilacap tidak kerdil, tidak mengucil, tidak menjadi buih-buih riuh dalam dalam alunan ombak, dan tidak ada namanya sama sekali dalam percaturan peradaban dunia kampus. Itulah sebabnya saya lakukan itu.



            Kurang lebih 6-8 bulan saya mencoba melakukan pendekatan kultural, melakukan door to door dari berbagai jurusan maupun fakultas, saya ajak ngopi-ngopi sambil diskusi, atau sesekali saya ikut kehidupan dunia lain mereka, billiard, karaoke dsb. Lelah? Iya saya lelah, lelah tenaga, pikiran serta mungkin juga uang. Tapi karena saya yakin, dan saya mantap saya ikuti saja prosesnya. Alhamdulillah, puji tuhan formascap terbentuk, dan sampai sekarang masih ada, bahkan walau hanya baunya kadang sedikit anyir dan amis, formascap masih tercium sampai sini, di ujung ibukota ini. Berkah Tuhan.



Untuk frasa nyata-nyatanya ada nyata-nyatanya tidak ada, jangan jadikan sebagai gurauan, ini serius. Semua akan mengalami fase jenuh dan lelah. Dan mungkin bisa jadi formascap akan tenggelam sekali lagi, ya sekali lagi, kalau kita semua hanya sibuk cawe-cawe lanangan dan cawe-cawe wedonan. Jadikanlah formascap sebagai tubuh yang jika dilihat indah, dan disentuh akan bikin terangsang, dan selami itu semua, maka kita semua akan merasakan betapa nikmatnya melakukan persetubuhan dengan Formascap.      



            Walaupun tulisannya sedikit cabul dan ngawur (sepertinya semua cabul dan ngawur..haha), tapi setidaknya saya tidak lupa esensi dari tulisan ini. Esensi yang pertama adalah berjuang, berjuang pada satu keyakinan tertentu, yang kedua adalah berkorban, berkorban demi apa yang diinginkan tercapai dan yang terakhir adalah dari itu semua, FORMASCAP hadir, hadir sebagai oase kegersangan sikap yang sudah lama dihinggapi kawan-kawan cilacap, hadir sebagai penuntun jalan dalam mengkonstruksi kembali gagasan-gagasan unggul yang sudah sejak lama tumpul, khususnya kesatuan dan persatuan untuk membangun kota cilacap kita tercinta,lebih baik, lebih baik, dan selalu lebih baik lagi. Walaupun sampai sekarang (ini lebih dari sudut pandang saya secara pribadi ya..) Formascap hanya melahirkan generasi-generasi mandul, dan tempat bersarangnya yang paling asyik mahsyuk bagi generasi para penyamun (Ini Intropeksi buat saya^_^), tapi saya tidak pernah lepas berharap dan berdoa untuk kebaikan formascap kedepannya, semua itu bisa di perbaiki, asalkan semua mau berbenah dan intropeksi diri untuk merubahnya.



Terakhir Saya tidak melupakan kontribusi yang lain, dalam deklarasi formascap kali ini, saya musti dan perlu menyebutkan satu-persatu para pelaku yang ikut dalam, penulisan kembali sejarah formascap, dan inilah mereka, M. Tukhfatul Athfal, Dyah Rahmawati, Gurnita Swasti Yudasmara, Lyla Delvy Setyani, Luthfi Sabila, Eko Puji Hartoyo, Ahmad Zakki Ahmar, Bahtiar (lupa kepanjangannya), Fikri Cahya Furqoni (MANTAN KETUA HIMACITA), Anifuddin, wong banyumas Khasan Febriono. dan yang saya paling hormati, bapak dosen kang Zein Muffarih Mukhtaf. Saya ucapkan terimakasih yang terdalam dari lubuk jiwa dan hati ini, tanpa kalian mungkin, formascap hanya sekedar nama, tak punya cerita dan tak punya sejarah. Terima kasih.. Tabik.. ^_^

Depok, 02-01-2017    

Yang pernah bercumbu denganmu.. FORMASACAP.        

Alfin Bahar P

Komentar