Hegemoni Teknologi Terhadap Manusia.


Penulis : Muhammad Muzakki
Saat ini adalah era globalisasi dimana teknologi berkembang pesat. Teknologi sudah  merajai semua bidang mulai dari bidang komunikasi hingga bidang transportasi. Pesatnya perkembangan teknologi sangat berpengaruh bagi segala aspek kehidupan.  Anak kecil menjadi terlihat kurang pendidikan moral karena mengikuti perliaku yang ada di televisi tatnpa memfilter terlebih dahulu.  Terjadinya kesenjangan sosial dan masih banyak fenomena lainnya.  
Melihat kata manusia, apabila dilihat dari perspektif antropologi manusia itu terdiri atas jiwa dan raga. Ketika jiwa dan raga bersatu akan menjadi manusia. Ketika dua unsur tersebut terpisahkan maka akan menjadi mantan manusia.
Kemungkinan masih banyak jiwa-jiwa yang terpisah dari raga dan berkeliaran disekitar kita. Raga sendiri tersusun atas 3 unsur animal,organik,anorganik maka dari itu jangan kaget ketika ada manusia yang perilakunya seperti hewan/animal. Tidak sedikit pula orang yang berperilaku tenang seperti tumbuhan dan keras kepala seperti batu (anorganik). Manusia juga memiliki kekuatan maha dahsyat yaitu cipta,rasa dan frasa. Cipta ialah kekuatan yang membuat gambar-gambar terhadap rencana dan segala sesuatu yang telah terjadi berupa citraan (gambaran) yang ada dibenak. Rasa adalah kekuatan halus yang menyelimuti dan menyatu dari setiap ambar-gambar atau citraan terhadap segala sesuatu yang membawa kesan (emosi pribadi). Karsa adalah kehendak/tekad inilah kekuatan yang menggerakan cipta dan rasa menjadi terlaksana.
Berbicara manusia tidak terlepas dari budaya.  Karena manusialah yang menciptakan kebudayaan. Teknologi telah menjadi salah satu budaya manusia. Fungsi teknologi itu sendiri adalah untuk memuaskan manusia. Nilai-nilai budaya bisa hilang ketika manusia sudah puas terhadap suatu budaya. Bisa jadi ketika manusia sudah puas dengan budaya teknologi, teknologipun bisa hilang. Namun, Teknologi akan terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Apabila dilihat dari perspektif teologis dahulu ada statement aku berpikir maka aku ada (i think therefore iam). Lama kelamaan berubah menjadi aku mengkonsumsi aku ada ( i consume therefore iam) dan di era saat ini menjadi aku tweet, aku upload dan lain sebagainya aku ada (i tweet,upload etc therefore iam). Statement tersebut mengatakan tentang eksistensi diri manusia. Jika dilihat di kalangan mahasiswa khususnya banyak sosial media yang digunakan oleh satu orang untuk mempublikasikan berbagai macam tentang kehidupannya dan gagasannya. Dari mulai foto, suara, tulisan pendek, posisi orang tersebut. Hal tersebut dilakukan demi eksistensi diri serasa ingin mengatakan bahwa “aku itu ada, di dunia ini” . mampu dianggap bahwa telah terjadi evolusi pada manusia yang diakibatkan teknologi. Contohnya pada awal penemuan alat komunikasi, alat tersebut digunakan sesuai fungsinyya untuk mendekatkan yang jauh. Lalu pada generasi selanjutnya timbul mobilephone mempermudah manusia untuk saling berkomunikasi dan mencari koneksi. Sampai pada terciptanya smartphone yang mulai menimbulkan terbelenggunya manusia pada teknologi. Itu adalah contoh pada komunikasi karena masih banyak perubahan yang terjadi dibidang transportasi dan yang lainnya.
Dengan adanya hegemoni modernisasi menjadikan yang dekat menjadi jauh yang jauh menjadi dekat. Dari menggontrol teknologi menjadi terbelenggu teknologi. Terbelenggunya manusia pada teknologi adalah hal yang dapat dianggap negatif. Karena ketika manusia tidak menggunakan teknologi akan terasa gelisah dan ada yang kurang dari hidupnya. Contoh ketika seseorang bepergian tapi lupa membawa smartphonenya maka hatinya akan resah (mayoritas di zaman ini). Akibat yang lainnya adalah dapat menghilangkan aspek-aspek kemanusiaan. Aspek kebebasan yang ditimbulkan dari adanya teknologi juga dapat merusak ketertiban atau kegoncangan di masyarakat.

Oleh karena itu, dalam menggunakan teknologi juga harus secara bertanggungjawab. Teknologi sangat sulit dihapuskan dari kehidupan kita karena adanya filsafat continuitas (terus berkembang secara bertahap) . Manusia sebaiknya mampu untuk memfilter dengan baik teknologi yang digunakan. Filter yang digunakan dengan berfikir menggunakan otak dan juga hati. Jangan jadikan eksistensi diri hanya mengikuti arus tapi juga harus dipikirkan terlebih dahulu. Kritik terhadap pemroduksi teknologi yang menghegemoni juga perlu diberikan kritik untuk tidak sekedar memikirkan keuntungan semata namun juga memikirkan tentang norma-norma yang menjadi kodrat manusia. Marilah bersama-sama menggunakan teknologi dengan bertanggungjawab.

Komentar